Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

?>
Showing posts with label keRan RealPoint. Show all posts
Showing posts with label keRan RealPoint. Show all posts

Friday, September 23, 2011

Program MU versi 2 segera diluncurkan

Mitra Usaha KERaN Program Mitra Usaha KERaN sejauh ini telah berjalan dengan sangat baik, dengan total Mitra Usaha sudah mencapai lebih dari 500 Mitra. Untuk lebih meningkatkan kualitas dan kegunaan program ini, KERaN merancang sistem baru untuk Mitra Usaha dengan fitur dan fasilitas jauh lebih lengkap. Selain itu juga dirancang sistem kompensasi pemasaran yang sangat menarik, di mana anggota KERaN/RealPOINT yang menjadi mentor (pendamping) dari Mitra Usaha baru akan mendapatkan bonus pendampingan sebesar Rp500.000,- dalam bentuk point (sejumlah 100.000 Pts). Sistem ini dapat diakses oleh pewirausaha di Indonesia dengan membeli BSP (Business Starter Pack) seharga Rp1.000.000,- (sudah termasuk PPn) di DP terdekat. Untuk yang belum menjadi anggota KERaN/RealPOINT, dengan membeli paket ini otomatis akan terdaftar sebagai anggota KERaN/RealPOINT dan mendapatkan akun eWallet (Dompet KERaN) secara gratis. Dalam paket ini sudah disertakan 500 MPV yang dapat digunakan sebagai insentif penjualan pada anggota KERaN/RealPOINT yang membeli produk/jasa Mitra yang bersangkutan. Sistem Mitra Usaha versi terbaru ini merupakan peningkatan (upgrade) dari sistem Mitra Usaha sebelumnya. Menggunakan BSP, Mitra Usaha dapat menampilkan katalog produk dalam bentuk tabel, dengan satu halaman penuh web yang didedikasikan khusus untuk masing-masing produk (berisi deskripsi sepanjang max. 4000 huruf / setara 2 halaman A4) dan max. 2 gambar/foto plus 1 tautan/link ke YouTube Video per produk).Paket standar BSP sudah memuat 10 slot produk secara gratis (penambahan slot produk seharga Rp50.000,- per slot, sudah termasuk PPn). Mitra Usaha berhak menjual slot produk ini ke pihak ketiga yang ingin menitipkan produknya untuk ditampilkan di web mitra usaha bersangkutan dengan harga ritel sebesar Rp100.000,- (dengan kata lain, Mitra Usaha dapat memperoleh keuntungan “listing fee” produk tersebut di “toko virtual” miliknya). Hasil penjualan slot produk yang sudah dimiliki menjadi milik Mitra Usaha bersangkutan. Kondisi ini memungkinkan Mitra Usaha mendapatkan pengembalian 100% investasi yang dikeluarkan untuk membeli BSP dengan menjual ke-10 slot produk tersebut ke pihak ketiga. KERaN akan menyediakan invoicestandar penjualan slot produk ke pihak ketiga yang dapat diunduh dari website mitra.keran.org. Dengan peningkatan sistem ini, kini Mitra Usaha dapat menampilkan berita/artikel dari blog masing-masing (dapat menggunakan fasilitas blog gratis dari blogger.com, wordpress.com, dsb.) yang akan tampil terintegrasi dengan web Mitra bersangkutan dalam kolom Berita/Artikel. Mitra Usaha juga dapat memasukkan status Twitter miliknya secara otomatis (akan tampil di halaman utama dan halaman berita web Mitra tersebut) cukup dengan mengisikan Twitter username ybs. Cara ini sangatlah praktis untuk menampilkan berita terbaru dari usaha Mitra tersebut karena status Twitter dapat diperbaharui dengan mudah menggunakan SMS / aplikasi Twitter Mobile yang dapat diunduh secara gratis dari website Twitter. Mitra Usaha juga dapat menampilkan galeri foto dengan jumlah gambar max. 1000 gambar dengan mengunggah foto/gambar yang ingin ditampilkan ke layanan Google Picasa (gratis). Cukup dengan mengisikan album ID di Picasa, secara otomatis web mitra akan menampilkan galeri foto tersebut secara terpadu. Cara yang sama digunakan untuk menampilkan galeri video dari Youtube, yaitu dengan membuat channel tersendiri di Youtube yang dikaitkan dengan web Mitra Usaha bersangkutan, secara otomatis sistem akan membuat galeri video terpadu di website Mitra Usaha tersebut. Dengan pertimbangan untuk memacu pertumbuhan Mitra Usaha (yang juga merupakan infrastruktur strategis KERaN sebagai platform jejaring ekonomi), syarat sudah menjadi anggota koperasi untuk Mitra Usaha dicabut. Dengan demikian, Mitra Usaha baru cukup mengalokasikan anggaran sebesar Rp1.000.000,- untuk menjadi bagian dari jejaring Mitra Usaha KERaN (versus total Rp1,5 juta di program MU sebelumnya). Diharapkan setelah merasakan manfaat sebagai anggota Mitra Usaha KERaN dan mendapatkan pemahaman lebih jauh tentang koperasi dan manfaatnya, pewirausaha dengan kesadaran sendiri akan menjadi anggota keluarga koperasi KERaN. Satu hal penting dalam peningkatan sistem ini adalah dimungkinkannya akses penuh ke sistem bisnis KERaN lewat perangkat bergerak seperti ponsel (dengan syarat ponsel tersebut memiliki akses internet) tanpa menggunakan komputer sama sekali (computer-less access). Mengingat masih lebarnya celah teknologi (technology gap) di Indonesia, rancangan sistem baru ini merupakan solusi untuk masyarakat Indonesia untuk memanfaatkan teknologi informasi secara maksimal untuk usahanya masing-masing. Sistem ini juga dirancang untuk berinteraksi dengan pemakainya secara sederhana dan mudah digunakan. Pemakai baru dapat memperlajari penggunaan keseluruhan sistem dalam beberapa menit saja. Sistem ini akan ditingkatkan dalam waktu dekat untuk menjadi sistem jejaring ekonomi skala penuh terpadu pertama di dunia dengan fitur B2C (Business to Consumer) dan B2B (Business to Business) yang sangat lengkap. Catatan: DP yang mendaftarkan Mitra Usaha baru akan mendapat komisi layanan sebesar Rp10.000,- / aplikasi.
READ MORE - Program MU versi 2 segera diluncurkan

Monday, August 8, 2011

Gunakan Peramban Google Chrome


KERaN menganjurkan pengunjung situs ini untuk menggunakan peramban (browser) Google Chrome terbaru. Situs KERaN dirancang untuk bekerja secara maksimal pada peramban tersebut.



Sesuai dengan komitmen KERaN untuk menjadi koperasi terdepan dalam memanfaatkan teknologi, situs kami mengadopsi teknologi terkini yang tersedia saat ini. Situs ini terpadu secara sinergis dengan layanan-layanan sosial internet (Web 2.0) yang umum digunakan masyarakat (google, facebook, twitter, blogger, dsb.). Situs ini juga sudah mengadopsi standar web terbaru seperti HTML5 dan CSS3 yang memperkaya pengalaman berselancar internet Anda. Untuk itulah memilih peramban yang tepat menjadi penting, untuk alasan tersebut kami menganjurkan penggunaan peramban Google Chrome.

Dari pengujian tim IT kami, pengguna peramban Mozilla Firefox versi terbaru dapat mengakses situs ini dengan hasil nyaris tidak ada beda dengan bila menggunakan peramban Chrome, namun untuk peramban lain (terutama Internet Explorer versi 8.0 ke bawah) akan dialami masalah berkaitan dengan tampilan yang tidak sesuai dengan yang seharusnya dan tidak berfungsinya beberapa fitur situs kami.

Beberapa alasan mengapa tim pengembang kami memilih peramban Google Chrome sebagai peramban pilihan utama:

Kecepatan. Peramban Chrome memiliki pemroses kode javascript (V8 Javascript Engine) yang paling canggih saat ini.
Mudah digunakan, dengan tampilan yang minimalis dan sederhana
Keamanan, Chrome dirancang untuk menjaga Anda lebih aman dan terjamin di web dengan perlindungan program jahat dan phishing internal, pemutakhiran otomatis untuk memastikan peramban tetap terkini dengan pemutakhiran keamanan terbaru, dan lain-lain.
Gratis, Chrome adalah peramban yang dapat diunduh tanpa biaya oleh siapa saja (dikembangkan dengan konsep open source)

Untuk Anda yang tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang peramban ini, silakan baca komik tentang Google Chrome yang dibuat oleh Scott McCloud.
READ MORE - Gunakan Peramban Google Chrome

Monday, August 1, 2011

KERaN (Koperasi Rakyat Nusantara)

KERan is a modern cooperative with strong foundation on business-entities market-driven network. Our system is built on top of solid IT (Information Technology) infrastructure which orchestrating vital Web 2.0 (Social Networking) elements into single unified system. With our open platform policy and vast expanding market, your company can fully gain benefits from our advantages by integrating your business with our system.

READ MORE - KERaN (Koperasi Rakyat Nusantara)

Thursday, June 30, 2011

7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif


Diagram 7 Habits of Highly Effective PeopleBuku "7 Habits of Highly Effective People" (7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif) adalah sebuah buku laris yang disusun Stephen Covey, lulusan Harvard University dan merupakan penulis buku terlaris mengenai kepemimpinan.
Untuk dapat memahami isi buku ini, pertama-tama kita harus memahami dulu apa yang dinamakan Paradigma. Sebab, dalam konsep buku ini, paradigma merupakan sesuatu yang sangat sentral dalam kehidupan kita.

Apakah arti paradigma?

Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan paradigma adalah (1) Model/Pola; (2) kerangka pikir. Tetapi sebetulnya paradigma termasuk kata yang cukup sulit dijelaskan. Untung saja cukup banyak sinonimnya dalam bahasa Indonesia. Dari pengalaman mereka yang biasa mengajarkan tentang paradigma disimpulkan bahwa paradigma tidak lain adalah sebuah cerita. Cerita yang bisa dihayati oleh sekelompok orang/masyarakat/ individu, yang menjadi pedoman bagi tingkah laku kita yang menjadi panduan bagi kehidupan kita.
Cerita tersebut tidak harus berupa cerita formal yang diulang-ulang. Dan paradigma begitu luas aplikasi bisa di dunia bisnis, rumah tangga, pribadi, agama masyarakat. Paradigma juga bisa tercipta dalam pikiran kita melalui teladan yang kita lihat - dari orang tua, guru, ulama, dan sebagainya, dan kemudian menjadi cerita mini yang kita hayati dan kita hidupi. Selain itu,.paradigma juga dapat menentukan bagaimana cara kita hidup, cara kita berpikir, dan cara kita berperilaku.
Bagaimana kaitan paradigma dengan 7 kebiasaan manusia efektif? Kaitannya sangat jelas. Struktur atau konsep dari 7 Habits itu adalah paradigma untuk berhasil. Untuk menjadi manajer teladan, untuk menjadi manajer yang efektif untuk menjadi orang tua yang efektif. Itu sebabnya disebut "highly effective people". Itu adalah paradigma yang ditawarkan oleh penulisnya. Paradigma baru untuk berhasil terdiri dari7 kebiasaan atau 7 karakter.
Bagaimana paradigma itu berpengaruh dan berkaitan dengan tindakan kita? Kita melihat bahwa paradigma, kemudian menentukan sikap kita menentukan tindakankita. Dan tentu saja dari tindakan itu ada hasilnya yang memperkuat atau memperlemah paradigma kita. Jadi kalau itu terus-menerus berlangsung, tindakan diulang-ulang maka terjadilah habits atau kebiasaan. Kalau kebiasaan diulang-ulang, maka dia akan menjadi perilaku yang mulai mapan. Istilah yang lebih kuat lagi itu disebut karakter atau watak - itu sudah berakar berurat di dalam diri kita sebagai hasil dari paradigma.
Dari sini terlihat dua hal: Pertama, konsep 7 Habits itu sendiri adalah paradigma. Kedua, untuk mengembangkan karakter itu juga dibutuhkan paradigma. Perubahan paradigma Yang dapat mengubah kebiasaan (habit) tidak cukup dengan paradigma yang setengah-setengah, harus dengan paradigma yang super dramatis - dalam istilah beragama itu disebut bertobat - berubah total atau harus mengalami pengalaman pahit.



Kebiasaan 1: Jadilah Proaktif. Arti kata proaktif tidak kita temukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Proaktif artinya lebih dari sekedar mengambil inisiatif. Menurut Covey, pada intinya manusia diberikan anugerah oleh Sang Pencipta berupa kebebasan untuk memilih. Kebebasan memilih ini didasarkan pada kesadaran diri, imajinasi (kemampuan untuk mencipta di dalam benak kita di luar realitas kita yang sekarang), suara hati (kesadaran.batin Yang,dalam tentang benar dan salah tentang prinsip-prinsip yang mengatur perilaku kita, dan pengertian tentang tingkat di mana pikiran dan tindakan kita selaras dengan prinsip-prinsip tersebut), dan kehendak bebas (kemampuan bertindak berdasarkan kesadaran diri kita, bebas dari seluruh pengaruh lain). Manusia yang proaktif adalah manusia yang mampu menggunakankebebasannya untuk memilih respon atas suatu rangsangan berdasarkan nilai yang dianutnya. Dengan kata lain, manusia yang proaktif adalah manusia yang dewasa, andal dan terpercaya. Dewasa bukan dalam arti umur tapi moral. Andal artinya dapat diandalkan (profesional) untuk bidang yang menjadi profesinya serta dapat menutup kesenjangan antara antara apa yang seharusnya dan antara apa yang ternyata ada. Terpercaya artinya terpercaya secara moral (mengambil tindakan dengan efektif dan efisien).
Kebiasaan 2 :Visioner (berorientasi pada hasil). Yang dimaksud dengan visi adalah kemampuan kita melihat hasil akhir yang kita harapkan -bayangan cita-cita yang kongkrit. Misalnya, visi mahasiswa baru adalah membayangkan lima tahun lagi berdiri dilantik oleh rektor dalam wisuda dengan jubah sarjana, dan gelar baru . Orang yang memiliki visi adalah orang yang berhasil. Tapi kalau tidak memiliki kedewasaan, maka visinya tinggal angan-angan, bagai pungguk merindukan bulan. Dia tidak punya kekuatan (power) untuk mencapai cita-citanya. Jadi kita harus mempuyai visi yang jelas, yang tidak meragukan, yang membuat kita sendiri tertarik dan terpikat dengan visi tersebut. Dengan visi, seseorang bisa mengubah rawa menjadi perkotaan, tempat yang kumuh menjadi tempat yang asri, kemiskinan menjadi kekayaan, terjajah menjadi merdeka, sakit menjadi sehat, binasa menjadi selamat, primitif menjadi modern, tak adil menjadi adil,kacau menjadi tertib. Tetapi dalam bentuk yang kongkrit, visi itu tidak hanya dalam bentuk yang besar-besar saja, tapi juga yang ringkas, harian, mingguan, bulanan, tahunan, masa tua, dan sebagainya. Kita harus bisa membayangkan, hari ini saya harus mencapai apa, minggu ini target saya apa, bulan ini target saya apa, tahun ini target saya apa, di masa tua nanti targetapa , begitu seterusnya secara rinci harus dikonkritkan. Inilah yang dinamakan kita memiliki tujuan hidup yang jelas. Sebab kalau jelas targetnya kita akan bersedia bekerja keras dengan segenap keahlian kita merealisasikan tujuan tersebut. Orang yang mempunyai kebiasaan berpikir hasil,berorientasi hasil didukung dengan kedewasaan yang kuat, akan Anda saksikan beda dengan masyarakat kebanyakan: aktivitas mereka jelas sekali bedanya. Orang lain lagi sibuk nonton dia belajar: Orang lain sibuk hura-hura, dia tekun melatih dirinya. Orang lain libur menghabiskan uang, dia justru mengumpulkan uang. Visi harus didukung rencana.juga kesabaran dan konsisten walau banyak halangan.
Kebiasaan 3: Mengutamakan hal-hal utama. Kebiasaan ketiga ini erat kaitannya dengan bagaimana memanajemeni waktu. Pertama penting tapi belum mendesak. Itulah kegiatan utama yang harus mendapat prioritas tertinggi. Umpamanya: membuat rencana kerja - jangan tunggu pekerjaan kita mendesak, rencanakan dulu sebelumnya. Contoh lain: menabung. Jangan menunggu kebutuhan yang biayanya besar mendesak, baru persiapkan dan rencanakan dulu dengan menabung. Memang konsekuensinya kita harus menunda keinginan untuk makan di restoran, misalnya. Contoh yang lain lagi: sholat. jangan sampai dekat dengan ajal, baru terdesak untuk sholat. Konsekuensinya, kita harus berani menunda kenikmatan tidur agar bisa sholat subuh. Tampak dari contoh tersebut, kita harus berperang melawan kenikmatan. Penderitaan itu juga bisa didefinisikan sebagai menunda/menolak kenikmatan. Tapi kalau kita tidak mau menunda yang nikmat ini, kita akan kecanduan kenikmatan tsb. dan tidak pernah tumbuh menjadi dewasa mantap, dan mapan. Ini musuh kita. Kedua: penting dan mendesak. Misalnya: menyelesaikan laporan karena besok rapat. Akhirnya hasilnya jelek karena mengerjakannya terburu-buru. Ketiga: tidak penting dan tidak mendesak. Hal seperti ini biasanya bersifat kesenangan dan kenikmatan, jadi sedapat mungkin dihindari. Misalnya: nonton TV kebanyakan, tidur kebanyakan, dan sebagainya. Empat: tidak penting tapi mendesak. Sejumlah rapat itu tidak penting. Banyak rapat yang berguna. Tapi banyak rapat tidak penting. Begitu juga dengan resepsi, banyak resepsi yang tidak penting. Konsentrasi waktu dan aktivitas kita kepada hal-hal yang penting-penting saja , baik yang tidak mendesak maupun yang mendesak . Untuk hal yang tidak penting, baik mendesak maupun tidak mendesak sedapat mungkin dihindari. Inilah yang dimaksud dengan karakter yang ketiga tersebut: kemampuan mengutamakan hal-hal utama.
kebiasaan4: Berpikir Menang-menang (Win-win). Artinya adalah dalam hubungan kita dengan relasi utama kita -- atasan, bawahan, pelanggan, keluarga, dsb -- pola hubungan kita bersifat saling menguntungkan. Artinya kalau kita berbisnis, dua-duanya saling memuaskan dan menggembirakan. Ini tentu mudah diterima akal sehat, karena memang seharusnya demikian. Kesulitannya adalah dalam kenyataan kadang-kadang kita harus kalah dan orang lain harus kalah. jadi dibutuhkan suatu sikap di mana kita megembangkan suatu kreativitas supaya orang lain harus dimenangkan juga, karena dalam interaksi kita dengan orang lain adalah mungkin kita kalah tapi hanya sementara. Kalau kita kalah terus itu tandanya kita bodoh. Dan kalau kita selalu menang terus setiap interaksi itu mungkin saja kita curang. Mungkin sekali saya harus mengalah untuk lain kali menang. Itu masih mungkin. Jadi WIN-WIN. Itu yang dimaksud dengan karakter keempat, yang intinya adalah kita harus menjadi orang yang baik hatinva tidak berniat merugikan orang lain.
Kebiasaan 5: Memahami dulu, baru dipahami. Inti dari kebiasaan kelima ini adalah pro-orang dan melayani orang lain: atasan kita, bawahan kita, keluarga kita teman kita, dsb. Melayani berarti bersikap memelihara dan mengayomi (melindungi). Bila itu tidak dilakukan, artinya orang itu membunuh sendiri rejekinya. Kalau kita bersikap melayani dengan baik kepada orang lain, mereka akan menghasilkan pendapatan yang berlipat ganda atau istilahnya "telur-telur emas" bagi kita. Kalau kita melayani atasan kita dengan memberi pekerjaan yang baik; hasil kerja bermutu tinggi. lstilahnya "telur emas" bagi sang atasan. Maka atasan akan sayang kepada kita. Dia akan memberi pekerjaan yang lebih baik kepada kita. Dia memberi tangung jawab yang lebih besar kepada kita sehingga kita menerima telur emas. Kalau kita besikap memelihara kepada anak buah kita dengan membina mereka memberi perhatian menolong mereka, maka mereka akan bertelur emas bagi kita dalam bentuk loyalitas, rasa hormat dan pekerjaan yang baik. Kalau kita mengasihi anak dan istri/suami kita maka kita akan menerima cinta kasih dari mereka perawatan dari mereka, suka cita dari mereka, kebahagiaan dari mereka. Kalau kita memelihara hubungan dengan kawan kawan kita diluar, kita baik kepada tetangga, kita melayani mereka, maka kita akan ditolong. Kita akan dibantu. Karakter ini jelas kita lakukan kalau karakter karakter yang lain ada. Urutannya memang demikian. Karena tanpa yang pertama, yang kedua tidak akan begitu dan seterusnya sampai yang kelima.
Kebiasaan 6 :Sinergi/Kerjasama. Inti dari kebiasaan keenam ini adalah sinergi agar tercapai produktivitas yang tinggi melalui kerjasama. Jadi diperlukan kerendahan hati untuk bersama-sama membantu dan dibantu orang lain dalam rangka membentu kelompok tim dengan orang lain bagaikan lima jari tangan kita. Untuk itu perlu diperhatikan bahwa musuh terbesar kita adalah rasa puas diri dan kesombongan. Inilah awal keruntuhan kita. Dan sebetulnya, sinergi adalah inti dari gotong royong. Untuk itu diperlukan kecerdasan. Ini penting agar kita tahu bagaimana caranya kumpul dalam tim itu mendatangkan hasil yang lebih besar.
Kebiasaan 7: Terus mengasah diri. Kebiasaaan ketujuh sifatnya adalah pengembangan diri. Semua karakter yang enam di atas itu perlu di putar oleh sumbu yang di dalam yakni karakter pembelajar dalam diri kita. Ini adalah karakter yang diperlukan bagi mereka yang ingin terus maju. Dan itu terdiri dari dua bagian/komponen utama. Pertama: sikap. Sedikitnya kita harus memiliki 7 macam sikap positif yang ada dalam diri kita: (1) Keinginan untuk maju; (2) Kemauan untuk mencoba mengimplementasikan enam kebiasaan tersebut agar diperoleh keterampilan, kemampuan, kompetensi dan profesionalisme; (3) Terbuka terhadap ide-ide baru; (4) Bersedia bingung, dalam menggabungkan ide-ide dan bertahan dalam alam kondisi perubahan ketika terjadi pergeseran paradigma; (5) Berani untuk gagal, karena setiap upaya ada risiko gagalnya; (6) Percaya diri. Berani mengambil risiko. Kedua: ilmu. Di sini dituntut adanya kepedulian (concern), wawasan, pengertian, dan paradigma. Nabi Sulaeman berkata: Tanpa pengertian, kerajinan pun sia sia. Jadi agar sikap positif dapat berputar diperlukan pemahaman, pengertian, dan konsepsi yang benar.

Sumber: Ceramah Jansen Sinamo - Dale Carnegle Indonesia dan Buku "7 Kebiasaan Orang-orang Yang Sangat Efektif". Dirangkum oleh Aji Ibrahim.
READ MORE - 7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif

FIKSI: Sedikit Menerawang ke Depan


Suatu hari (yang sudah sangat dekat), semua handphone dengan harga beberapa ratus ribu rupiah saja sudah memiliki fasilitas internet WiMax yang kecepatannya 5x lipat kecepatan WiFi tercepat sekarang. Mengakses facebook sama mudahnya dengan mengirim SMS. Era digital sudah tiba.
Seperti kita semua pelajari waktu kelas 1 SD, Ibu Budi pergi ke pasar. Walaupun di sebelah rumahnya ada minimarket yang terang benderang dan ber-AC dingin, Ibu Budi lebih suka naik becak pergi ke pasar yang agak becek bersama anaknya tercinta, Laura. Kenapa? Karena di pasar Ibu Budi bisa bergosip ria bersama teman-temannya. Lagi pula, sejak jaman Nyonya Meneer sudah berdiri, Ibu Budi selalu berbelanja ke pasar tersebut. Moeilijk om gewoonten te veranderen.
Bedanya sekarang Ibu Budi tidak membawa dompet. Di tangannya tertenteng sebuah hape made in China seharga 250 ribu rupiah. Biar murah tapi tetap meriah, begitu katanya. Dibawa bukan untuk bergosip ria, gosip di pasar cukup pakai mulut. Hape itu untuk bertransaksi onlein (on line). "Lha, koq bisa?", demikian tanya si abang becak keheranan. "Ya bisa dong, kan sekarang ada KERaN", jawab si Ibu dengan muka sumringah. Abang becak tambah bingung, apa hubungannya ya dompet dengan ledeng, begitu pikirnya.
Akhirnya Ibu Budi sampai ke pasar, sebuah pasar tradisional yang ramai dikunjungi ibu-ibu berkebaya. Di lapak Bang Doel langganannnya, Ibu Budi memilih barang-barang keperluannya sehari-hari, mulai dari beras, minyak goreng, gula, sampai jamu langsing singset ramuan putri Solo yang sekarang sudah dikemas secara modern. Total-total terhitung sejumlah 520 ribu. "Padahal kalau jumlahnya segini kan tinggal saya kirim ke rumah, Bu, ga usah jauh-jauh ke sini.", kata Bang Doel. Ibu Budi mengangguk pelan sambil bergumam lirih, "Iya, nanti tolong dikirim ke rumah ya Bang. Ngirimnya gratis tokh, ga pake bayar. Ke sini kan kan skalian ngegosip, Bang..."
Ibu Budi lantas membuka hapenya. Jari-jarinya dengan lincar menari di atas tombol-tombol hape kesayangannya itu. "Bentar ya Bang, masuk fesbuk dulu", kata Ibu Budi. Sebuah pesan notifikasi masuk, isinya "Rio Surio dan 12 lainnya bergabung di grup KERaN Anda hari ini". Ibu Budi tersenyum kegirangan. Sejak bergabung di KERaN, bukan cuma biaya belanja jadi gratis (terbayar dari bonus), bahkan bonus bulanannya sudah mengalahkan gaji sang suami yang berstatus manajer di sebuah bank swasta terkenal. Dalam sehari, belasan notifikasi facebook semacam itu diterimanya. Artinya, pundi-pundi uangnya semakin besar!
Ibu Budi meneruskan masuk menu 'pemesanan'. Dicatatnya jumlah barang-barang yang baru dibelinya. Setelah mencocokkan sekali lagi, ditunjukkannya layar hape tsb ke Bang Doel. Bang Doel mengangguk. Selintas dilihatnya nomor DP-nya di sudut kanan bawah. Memang sudah setahun ini Bang Doel menjadi Distribution Point. Sejak jadi DP pelanggannya selalu bertambah setiap hari. Sama seperti Ibu Budi, para pelanggannya setia tak mau beralih ke lain tempat. Bagaimana tidak loyal, sebagian besar pelanggannya adalah downlinenya juga.
Ibu Budi lalu menekan tombol OK. Point eWalletnya ditransfer seketika itu juga menjadi kredit DP Bang Doel. Proses transaksi selesai. Dengan ringan Ibu Budi beranjak ke kedai nasi di sebelah, markas ibu-ibu gosip bersidang umum. Sejak jadi pelanggan RealPOINT di KERaN, tangannya tidak lagi pegal membawa pulang 25 kg beras setiap bulan, 4 liter minyak goreng, beberapa pouch berbagai jenis sabun cair, dsb. Sesuai aturan di KERaN, untuk pembelanjaan minimal 500rb DP akan mengantarkan barang-barangnya tanpa ongkos tambahan.
Ternyata teman-temannya belum datang. Daripada bengong, Ibu Budi kembali mengutak-atik hapenya. Diceknya jumlah pertambahan raihan point tutup buku kemarin. Sudah 8 digit! Di bagian tengah layar tampak kotak pesan, "Selamat! Bulan ini jumlah poin terkonfirmasi Anda sudah mencapai 10 juta rupiah / lebih. Kabarkan rekan-rekan Anda tentang prestasi Anda ini. Tulis ke dinding?". Ibu Budi memilih tombol "Post". Dalam sekejar ribuan teman-temannya mendapatkan update informasi ini. Tak lama seorang temannya, Ibu Ida, mengirim comment. "Wah, keren Bu, bisa dapat uang banyak... bagi-bagi donk rahasianya..."
"Nah, ini dia...", gumam Ibu Budi. Dipilihnya menu "Undang Teman". Muncul kotak dialog, "Undang teman Anda untuk menggunakan aplikasi RealPOINT". Dari daftar teman, dipilihnya nama Ibu Ida. "Undangan terkirim".
1.000 km dari pasar tersebut, Ibu Ida sedang duduk di rumahnya. Undangan aplikasi RealPOINT dari Ibu Budi diterimanya (accept invitation). Muncul penjelasan singkat tentang KERaN dan peluang wirausaha RealPOINT. Kemudian muncul chat pop-up, salah satu fitur facebook yang paling sering ia gunakan. Ternyata dari Ibu Budi. "Bu Ida, kalo ngomongnya pake ngetik kan susah ya, itu di sudut kanan atas ada gambar telepon, diklik ya Bu." Mengikuti petunjuk Ibu Budi, Ibu Ida mengklik icon telepon tersebut. Muncul jendela dialog bertuliskan "Google Chat", diikuti bunyi telepon berdering dan muncul lagi pesan "Ibu Budi mengajak Anda untuk menggunakan Video Chat. Terima ajakan ini?" Ibu Ida mengklik tombol "OK". Muncul gambar Ibu Budi sedang tersenyum lebar. "Halo Bu Ida, lama tidak bertemu..." Beberapa menit mereka berdua bertegur sapa melepas kangen. Maklum sudah 3 bulan tidak berjumpa sejak acara arisan terakhir.
Pembicaraan akhirnya sampai ke topik bisnis. "Ya itu peluang bisnisnya, Bu Ida. Cuma memindahkan pembelanjaan kita sehari-hari. Gampang banget...", kata Ibu Budi. Ibu Ida menangguk-anggukkan kepalanya, menyimak lembar demi lembar slide presentasi Power Point yang muncul di layar monitor komputernya. Slide yang sama juga muncul di layar ponsel Ibu Budi, cuma lebih kecil tentunya. Tokh Ibu Budi sudah hafal luar kepala isi slide tersebut, melihat sekilas saja Ibu Budi tahu slide mana yang sedang dibaca Ibu Ida. Lewat video call, Ibu Budi dengan lancar menjelaskan slide-slide tersebut.
15 menit kemudian penjelasan selesai. Ibu Ida tampak sangat bersemangat dengan peluang usaha yang baru dikenalnya ini. "Lha nanti saya belanja ke mana, Bu?", tanya Ibu Ida. "Coba aja dilihat daftar DP di sekitar situ. Klik tombol 'Daftar DP" di bagian atas, terus pilih yang paling dekat dengan rumah Bu Ida", jawab Ibu Budi. "Terus, harga barang-barangnya gimana?", tanya Ibu Ida lagi. "Di sebelah tombol [Daftar DP] tadi kan ada tombol [Katalog Harga], Bu. Klik aja di situ.", jawab Ibu Budi. Dalam sekejap daftar barang terkini muncul di layar komputer Ibu Ida. Selintas Ibu Budi mengamati daftar harga tersebut. "Wah, harganya bagus, Bu. Baiklah, saya mau gabung. Caranya gimana, ya?", kata Ibu ida dengan antusias.
"Ibu Ida punya kartu kredit, kan? Bisa join onlein koq Bu. Klik aja tombol [Gabung Sekarang], terus isi nomor kartu kredit Ibu. Ada biaya kartu kredit tambahan 3%, gak apa-apa kan Bu... yang penting praktis. Beli aja dulu bisnis pek-nya. 150rb ditambah 3% jadi 154.500,-. Kalau ngga, pake mobail bengking BCA juga bisa, Bu. Kalau pake BCA biaya transfernya lebih murah, cuma 500 perak. Bu Ida juga bisa sekalian pilih barang yang mau dipesan, nanti diantar sama DP pilihan Ibu tadi.", demikian Ibu Budi memberi penjelasan.
Singkat kata, Ibu Ida bergabung. Bukan cuma belanja, karena tertarik dengan peluang usahanya Ibu Ida sekalian gabung jadi anggota Koperasi, bahkan sampai membeli 15 unit modal dari beberapa unit bisnis di Interbiz.
Maka pagi itu Ibu Budi kembali mendapatkan beberapa notifikasi tambahan...
"Ida Puspa bergabung langsung di group Anda, Anda mendapat 6000 Pts"
"Ida Puspa bergabung sebagai anggota Koperasi"
"Ida Puspa membeli 5 unit bisnis HTLSNR47, Anda mendapat bonus mentoring Interbiz sebesar 100,000 Pts / Rp500.000,-"
"Ida Puspa membeli 10 unit bisnis ABJN681, Anda mendapat bonus mentoring Interbiz sebesar 200,000 Pts / Rp1.000.000,"
** TAMAT
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Kabar baiknya, fiksi ini bisa segera jadi kenyataan dalam waktu singkat. Fiksi atau fakta tergantung Anda, rekan" seperjuangan jaringan pendobrak di KERaN. Salam koperasi, MERDEKA!
READ MORE - FIKSI: Sedikit Menerawang ke Depan

Program Mitra Usaha KERaN diresmikan di Bandung


Mitra Usaha KERaNKetua Umum KERaN Bpk. Adi Sasono meresmikan program Mitra Usaha KERaN pada acara seminar "KERaN untuk Indonesia" yang diselenggarakan di Bandung, 16 April 2011 kemarin yang dihadiri sekitar 500 orang dari berbagai daerah. Sebelumnya beliau menyempatkan diri meninjau beberapa Mitra Usaha KERaN yang ada di Bandung, antara lain SPBU Surapati, Batagor Riasari, dan ARO Coffee.
Peresmian ditandai secara simbolis dengan menyerahkan plakat kemitraan pada Mitra Usaha KERaN pertama, Klinik Azhra Medika, yang diserahkan langsung oleh Ketua Umum KERaN Bpk. Adi Sasono pada Ny. Billy Gunawan, pemilik Klinik Azhra Medika.
Saat beraudiensi santai dengan beberapa anggota KERaN, beliau berpesan untuk meningkatkan jumlah Mitra Usaha KERaN minimal 500 Mitra Usaha baru dalam 3 bulan ke depan. Menurut pandangan beliau, program Mitra Usaha sangatlah efektif untuk membangun basis jaringan KERaN dengan cepat sambil sekaligus memberdayakan para pewirausaha kecil dan menengah yang ada di Indonesia.
Hingga saat artikel ini ditulis (45 hari sejak diluncurkan), tercatat 128 wirausaha telah tergabung sebagai Mitra Usaha KERaN dari berbagai penjuru di Indonesia.
READ MORE - Program Mitra Usaha KERaN diresmikan di Bandung

KERaN di Festival UKM ke-9 / 2011


Kementerian Koperasi dan UKM kembali menggelar pameran produk usaha kecil menengah dari seluruh provinsi dan kabupaten/kota mulai 1-5 Juni 2011 di Exhibition Hall gedung SME TOWER (SMESCO UKM).
Sebanyak 315 koperasi usaha kecil menengah (KUKM) akan memamerkan produk mereka di 250 gerai yang disediakan dalam kegiatan SMESCO UKM Festival ke-9 tersebut. Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan menyerahkan bantuan secara simbolis saat pembukaan SMESCO UKM Festival ke-9 di Jakarta, Rabu (1/6). Pameran yang berlangsung hingga 5 Juni 2011 itu diikuti KUKM mencapai 400 peserta dari seluruh Indonesia.



Produk yang dipamerkan dalam festival itu terdiri atas produk : fashion, aksesori, alas kaki, piranti rumah tangga, furnitur, makanan dan minuman.
Selain itu, di acara tersebut juga berlangsung penyerahan secara simbolis sertifikat pendirian koperasi langsung oleh Kementrian Koperasi dan UKM Bpk. Sjarifuddin Hasan. Salah satu koperasi yang menerima penyerahan sertifikat pendirian koperasi secara simbolis adalah Koperasi Ekonomi Rakyat Nusantara (KERaN). Ini menunjukkan salah satu bukti lagi dari sisi legalitas bahwa Koperasi Ekonomi Rakyat Nusantara mendapatkan tempat dan dukungan penuh dari pemerintah khususnya Kementrian Koperasi dan UKM dalam pengembangannya untuk mensejahterakan seluruh anggotanya, dan mendukung program pemerintah dalam membangun perekonomian bangsa Indonesia dengan menjangkau sampai lapisan masyarakat terbawah.
Konsep dari Kementrian Koperasi dan UKM ini sangat sesuai dengan konsep yang dimiliki oleh KERaN, dimana KERaN tidak hanya bertujuan untuk mensejahterakan seluruh anggotanya bahkan memberi beberapa peluang usaha yang dapat dijalankan oleh seluruh anggotanya dan seluruh anggota KERaN diberi kebebasan seluas-luasnya dalam memilih peluang mana yang akan mereka jalankan sesuai dengan keahliannya masing-masing. Dengan kata lain KERaN memberikan peluang kepada seluruh anggotanya untuk berwirausaha sekaligus menyediakan pelatihan-pelatihannya dalam meng-edukasi SDM dan pengenalan maupun pendalaman tentang teknologi untuk mengembangkan peluang usahanya yang telah mereka pilih. Karena sampai saat ini KERaN merupakan satu-satunya koperasi yang mempunyai dukungan IT terkini.
Dengan banyaknya kekuatan yang dimiliki oleh KERaN, mari kita bersama-sama berjuang membangun dan membesarkan KERaN dengan mengoptimalkan kekuatan kita untuk menjadikan KERaN sebagai salah satu solusi masalah ekonomi yang telah dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam waktu yang cukup lama hingga saat ini. Karena kita sama-sama mengetahui bahwa Indonesia sangat kaya sumber daya alam yang seharusnya diolah dengan benar dan ditujukan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Untuk itu marilah kita satukan perbedaan yang kita miliki menjadi kekuatan untuk merubah kehidupan bangsa Indonesia ke arah yang jauh lebih baik dimulai dengan merubah kehidupan pribadi kita masing-masing melalui KERaN. MERDEKA!!!
Sekjen KERaN Bpk. Fransiscus X. Joko menerima surat pengesahan badan hukum koperasi langsung dari Mentri Koperasi RI, DR. Sjarifuddin Hasan
2011-06-06 01:42:47 
READ MORE - KERaN di Festival UKM ke-9 / 2011

Partisipasi dan Kontribusi KERaN untuk Mendorong Perkembangan Kewirausahaan di Indonesia


SWB.jpg
Pada tanggal 14 Juni 2011 dalam rangka berpartisipasi dalam program pemerintah GEBYAR WIRAUSAHA yg serentak di selenggarakan di seluruh Indonesia, KERaN mendapatkan kehormatan sebagai salah satu pengisi acara.
Mewakili KERaN secara resmi, Bpk. I. Heru Kuncoro (anggota Dewan Pengurus Koperasi Ekonomi Rakyat Nusantara / KERaN, seorang pengusaha sukses di bidang properti dan wirausaha otomotif yang juga telah terbukti sukses sebagai praktisi pemasaran jaringan) memberikan orasi dan motivasi pada peserta yang memadati Wisma Saba Utama di areal kantor gubernur di Renon, Denpasar, Bali.
Hadir pada acara tersebut antara lain Gubernur Bali Bpk. I Made Mangku Pastika, walikota Denpasar, seluruh Bupati Prov Bali, Kepala Dinas Koperasi, KADIN, IWAPI, dan kepala instansi lainnya.



Partisipasi ini adalah perwujudan kepedulian KERaN untuk mendorong perkembangan dunia wirausaha di Indonesia dalam rangka mewujudkan misi KERaN sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi di negara kita tercinta ini. Di sisi lain, ini merupakan apresiasi dari pemerintah -- khususnya Kementrian Koperasi & UKM RI dan pemerintah daerah provinsi Bali -- akan potensi dan kemampuan KERaN dalam mewujudkan sistem ekonomi berbasis rakyat.
READ MORE - Partisipasi dan Kontribusi KERaN untuk Mendorong Perkembangan Kewirausahaan di Indonesia

UKM Positif dalam Penambahan Tenaga Kerja


Survei oleh HSBC berjudul Emerging Markets Small Business Confidence Monitor menunjukkan 92% UKM di Indonesia berpandangan positif dalam hal penambahan tenaga kerja pada tahun ini. Berdasarkan survei terbaru the Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited (HSBC) yang melibatkan 30! pebisnis skala kecil menengah itu, sekitar 77% responden berencana mempertahankan posisi, dan 15% berencana menambah tenaga kerja. Sandiaga Salahuddin Uno, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang UKM dan Koperasi, gembira dengan hasil survei HSBC ini yang menunjukan bagaimana pelaku UKM tetap optimistis dalam memandang ekonomi Indonesia, khususnya dalam hal rencana penanaman modal dan mempertahankan lapangan kerja. Sumber: Bisnis Indonesia
READ MORE - UKM Positif dalam Penambahan Tenaga Kerja

Koperasi Didorong Kembangkan Bisnis Ritel



Koperasi di Indonesia diharapkan kembali mengembangkan bisnis ritel di dalam negeri seperti yang pernah dilakukan 10 tahun silam. Ekonom Dawam Rahardjo mengatakan sekarang koperasi memerlukan arsitektur baru dalam berkonsolidasi untuk merambah di sektor bisnis ritel.
"Koperasi bisa mengembangkan toko- toko ritel dan pusat perkulakan," katanya di sela- sela diskusi mengenai ekonomi politik perkoperasian Indonesia, kemarin. Dia mencontohkan seperti koperasi di era Orde Baru sudah mengembangkan bisnis ritel melalui pengembangan perkulakan Goro [PT Goro Batara Sakti dan PT Go-ro Yudhistira Utama] dan warung serba ada (waserda).
Namun, lanjutnya, saat memasuki era reformasi kegiatan [pengembangan bisnis ritel oleh koperasi] tak dapat dijalankan lagi. Dawam mengharapkan koperasi saat ini kembali mengembangkan bisnis ritel di dalam negeri terutama di daerah- daerah dengan melakukan kerja sama dengan pemerintah daerah setempat, termasuk terlibat dalam revitalisasi pasar tradisional.
"Paling tidak koperasi yang mengembangkan bisnis ritel minimal 20% dari total koperasi saat ini," ujarnya. Selain itu, Dawam juga mengharapkan dihidupkannya kembali koperasi unit desa (KUD) sehingga koperasi pertanian dapat dikembangkan.
Sementara itu, Ketua Umum .Dewan Koperasi Indonesia Nurdin Halid mengatakan revisi undang-undang (UU) Nomor 25/ 2007 tentang Koperasi mendesak. "Revisi UU tersebut dimaksudkan agar koperasi bisa setara dengan perusahan swasta," katanya kepada Bisnis, di sela- sela Hut ke 63 Koperasi yang diselenggarakan Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI), kemarin.

Kendala koperasi

Selain itu, dia mengakui kendala yang dihadapi koperasi saat ini adalah sumber daya manusia (SDM) yang minim. Dengan begitu, lanjutnya, koperasi belum memperoleh alokasi ekonomi yakni tegaknya sistem ekonomi nasional (sesuai dengan "Pasal 33 UUD 1945) adalah prasya-rat tumbuh-kembangnya gerakan koperasi Indonesia dan tata kelola koperasi seperti yang tercantum dalam TAP MPR No. 16/1998.
Ketika disinggung mengenai jumlah koperasi secara nasional saat ini, dia mengatakan jumlahnya 160.000 unit. Namun, dia belum bisa mengungkapkan jumlah koperasi yang tidak aktif karena Dekopin baru pada tahun ini menyusun database seluruh koperasi di Indonesia sehingga bisa diketahui berapa jumlah koperasi yang masih aktif dan harus dipertahankan eksistensinya.
"Kami ingin tahu berapa koperasi yang masih berjalan dan koperasi yang tinggal papan nama saja," ujarnya. Selain itu, terkait dengan mundurnya perayaan Hut Koperasi ke 63 tahun ini di mana seharusnya tanggal 12 Juli bergeser ke J5 juli, menurut dia karena penyesuaian dengan agenda Presiden. "Kami ingin Hari Koperasi selalu dihadiri Presiden," ucapnya.
Kementerian Koperasi dan UKM tetap fokus pada fungsi utamanya untuk menjadi stimulator bagi perkembangan dan peningkatan kualitas serta akses permodalan pelaku koperasi dan usaha mikro, kecil menengah (KUMKM). "Anggaran yang kami miliki untuk melakukan tugas penanganan secara langsung bagi peningkatan kualitas KUMKM, jelas sangat terbatas. Karena itu kami hanya berperan menjadi stimulator saja," kata Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan kepada Bisnis, pekan lalu.

Sumber: Bisnis Indonesia
READ MORE - Koperasi Didorong Kembangkan Bisnis Ritel

Membangun Citra Koperasi lewat Etalase


Beberapa waktu lalu Kementerian Koperasi dan UKM menyosialisasikan perlunya memunculkan koperasi etalase, sebagai upaya meningkatkan citra lembaga perkoperasian di setiap wilayah kabupaten/kota. Yang dimaksudkan koperasi etalase adalah kegiatannya memiliki keunikan, inovatif dan kreatif, memiliki usaha spesifik berbasis keunggulan sumber daya lokal, manajemennya mampu menunjukkan keunggulan kompetitif.
Kriteria penilaiannya tidak harus didasarkan atas keunggulan dari aspek besarnya sisa hasil usaha (SHU), kepemilikan modal sendiri, jumlah anggota dan lainnya lagi. Jadi, bisa saja koperasinya tidak besar, tetapi dapat memberdayakan koperasi tersebut menjadi tangguh dan mandiri.
Sasaran dari penemuan koperasi etalase adalah agar koperasi semacam itu dapat menjadi lokomotif bagi kemajuan bisnis koperasi dan UMKM setempat, terutama dikaitkan dengan produk-produk industri kreatif.
Koperasi demikian dapat berupa koperasi serba usaha, koperasi agrobisnis, koperasi wan ita, koperasi unit desa maupun koperasi karyawan. Keunikan usaha maupun keunggulan yang dimilikinya dinilai layak ditunjukkan kepada masyarakat luas.

Maka, tidak diragukan, Jawa Timur berpotensi menghadirkan sejumlah koperasi etalase, mengingat di provinsi itu terda- pat 22.000 unit koperasi yang bergerak di berbagai kegiatan usaha. Setiap koperasi itu tentu memiliki keunikan masing-masing sesuai jenis kegiatan usaha yang dilakukannya.
Sebagai contoh, beberapa KUD di Jatim cukup kompetitif melalui kegiatan di bidang per- susuan dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal. Sejumlah koperasi wanita sangat eksis di bidang simpan pinjam dengan menerapkan sistem tanggung renteng, sehingga kerapkali sistem tersebut dipelajari pelaku koperasi dari luar Jawa. Ada pula koperasi karyawan yang mengelola rumah sakit yang representatif.

Membangun Citra

Untuk menjabarkan pentingnya menemukan koperasi etalase di setiap kabupaten/kota, pihak Kementerian KUKM telah menga- dakan rapat koordinasi di Surabaya diikuti Dinas Koperasi & UMKM Jatim serta dinas yang membidangi koperasi dan UKM dari 20 kabupaten/kota di Jatim.
Asisten Deputi Urusan Pengembangan Sistem Bisnis Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha Kementerian KUKM, Endah Srinani, mengatakan koperasi eta lase merupakan koperasi yang terpilih berdasarkan persyaratan tertentu, dimana harus memiliki kelebihan/keistimewaan dalam bentuk keunikan, kekhasan, keunggulan, kepatutan yang dapat dipakai sebagai contoh.
Sebagai 'etalase', maka koperasi tersebut harus layak dipamerkan, sebagai upaya membangun citra koperasi. Selain itu, koperasi bersangkutan pun bisa memperkenalkan diri atau mempromosikan produk, kegiatan atau kelembagaannya.
Menurut Endah, jumlah koperasi secara nasional kini mencapai 175.102 unit, diantaranya 71% aktif dan 29% tidak aktif. Masih banyak koperasi aktif, tetapi citra koperasi terkesan surut, sehingga perlu diperbaiki dengan meningkatkan kinerjanya antara lain melalui penetapan ikon koperasi di setiap daerah guna menstimulasi koperasi lainnya.
"Terdapatnya koperasi unggulan di suatu kabupaten/kota juga merupakan penilaian keberhasilan capaian kinerja kepala dinas yang membidangi koperasi dan UKM," tuturnya dalam rakor pengembangan koperasi etalasi di Hotellnna Simpan, Surabaya, pada 16 Oktober lalu. Rakor dimaksudkan mencari masukan tentang pengembangan koperasi etalase melipti persamaan persepsi tentang definisi, kriteria, keunikan dan keunggulan lokal.
Koperasi etalase bisa muncul berdasarkan ciri fisik, jenis koperasi, skala usaha ataupun komoditas. Untuk itu, penemuannya membutuh- kan kecermatan dalam proses, seleksi agar diperoleh koperasi yang benar-benar memiliki keistimewaan.
Dengan ditemukannya koperasi etalase, maka ada wahana bagi instansi pemerintah daerah guna menginformasikan keberhasilan program pembinaannya kepada koperasi. Di lain pihak, melalui predikat sebagai 'etalase', koperasi bersangkutan bisa memperkenalkan diri atau mempromosikan produk, kegiatan maupun kelembagaannya.

Endah menambahkan dari Jatim terdapat dua koperasi yang diusulkan dapat menjadi 'etalase' di daerah masing-masing yakni Koperasi Satrla Jaya berlokasi di JI. Manokwari, Blitar, yang bergerak di bidang jasa pelayanan pinjaman tenaga kerja Indonesia (TKI) ang- gota koperasi yang akan ke luar negeri. Satunya lagi adalah Koperasi Karyawan (kopkar) Mekar PT Gudang Garam, JI. Semampir 11/1, Kota Kediri yang memfasilitasi ruang taka serba ada (toserba) sebagai stan promosi UKM dengan sewa sistem bagi hasil.(aac)
Instansi yang membidangi koperasi dan UKM di tingkat kabupaten/ kota dapat mengusulkan koperasi unik di daerah masing-masing ke Kementerian Koperasi & UKM untuk ditetapkan sebagai koperasi etalase, kemudian dikaji sekaligus didiskusikan dengan instansi daerah setempat melalui kunjungan ke lokasi koperasi.
Indikatornya memiliki ciri khas yang berbeda dengan koperasi pada umumnya, dimana menunjukkan keunggulan lokal, sifat umum koperasi, usaha layak & prospektif, produk layak & prospektif, tidak mudah ditiru serta memanfaatkan kearifan lokal.
"Penemuan koperasi etalase didasari penilaian dengan sudut pandang lain dibandingkan penetapan koperasi unggulan selama ini. Hal ini perlu, sebab keberadaan koperasi bisa dipandang dari berbagai dimensi," ujar Subroto Hadi Sugondo, konsultan koperasi, dalam rakor pengembangan koperasi etalase, belum lama ini.
Dalam pengaplikasiannya, yang dapat ditetapkan sebagai koperasi etalase ialah yang dapat memberi nilai tambah khas atau unik, tetapi layak, di samping memanfaatkan kearifan lokal. Karena itu, koperasinya bisa beragam dengan ciri kontekstual dan sifatnya bisa permanen.
Menurut Subroto, untuk menemukannya dilakukan dengan seleksi meliputi awal, kelembagaan dan disusul usaha, diikuti oleh keterlibatan anggotanya. Aspek kelembagaan didasarkan klasifikasi, latar belakang dan faktor dukungan perkembangan koperasi.
Adapun aspek kegiatan usaha yang khas sesuai kriteria koperasi etalase mencakup jenisnya, ada jenis kegiatan serupa pada koperasi lain, diversifikasi usaha, jenis usaha anggota, jenis usaha anggota paling menguntungkan, jenis usaa anggota paling banyak, keterkaitan usaha anggota dengan koperasinya.
Sementara yang dimaksudkan pemanfaatan keunggulan lokal terdiri dari bahan baku, sumber bahan baku, model pasokan bahan baku dan harga bahan baku dan kualitasnya.
"Selain dipamerkan dan dijadikan ikon, koperasi etalase dapat dilihat sebagai hiburan sebab performancenya unik. Untuk menetapkannya, dinas yang membidangi koperasi & UKM di tingkat kabupaten/kota perlu mengembangkan sendiri konsepnya," papar Subroto.
Menurut Kepala Dinas Koperasi & UKM Kab. Mojokerto, Gozali, di daerah tersebut tentu ada beberapa koperasi yang layak ditetapkan sebagai koperasi etalase.
"Kalau dicari, tentu di wilayah kerja kami terdapat koperasi yang layak dijadikan ikon dan dipamerkan seperti KUD yang bergerak di sektor agro- bisnis. Jadi, tidak perlu membentuk koperasi baru untuk ditetapkan sebagai koperasi etalase," usulnya.
Kepala Bidang Usaha Koperasi Dinas Koperasi & UKM Kab. Bojonegoro, Hari Mudji Santoso, juga berpendapat serupa bahwa untuk menjadikan koperasi etalase selayaknya mencari yang telah ada, tidak perlu mendirikan koperasi baru," tuturnya.
Untuk menemukan koperasi unik sesuai kriteria Kementerian Koperasi & UKM agaknya bukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan, terlebih-lebih tingkat keaktifan koperasi di Jatim mencapai 80% dari total 22.000 unit yang ada.
Sumber: Lensa Edisi 09/ November 2010 Dinas Koperasi UMKM Jawa Timur
READ MORE - Membangun Citra Koperasi lewat Etalase

Ritel Modern Disarankan Gandeng UKM


Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) Syarifuddin Hasan menyarankan agar pengusaha ritel modern menggandeng kalangan pengusaha kecil dan menengah. Hal ini supaya mendorong UKM sebagai pemasok komoditas perda- gangan di tempat usaha tersebut.
"Upaya ini dapat menjembatani kesulitan para UKM mendapatkan akses ke pusat perbelanjaan," kata Syarifuddin saat pembukaan Bazar Rakyat dan Pojok Rakyat Carrefour, Surabaya, kemarin.
Dia optimistis, kerja sama antara peritel modern dan UKM dapat meningkatkan kinerja pengusaha kecil menengah mendatang. Apalagi, selama ini UKM selalu merasa sulit bersaing menembus pasarmodern. "Misalnya, terkendala pengemasan maupun kebersihan yang masih kurang standar," ujarnya.
Beliau menilai,kerjasama yang dilakukan manajemen pasar modern seperti halnya Carrefour dalam menggandeng UKM patut ditiru pasar modern lainnya. "Jika jalinan kemitraan tersebut dapat terealisasi baik oleh sejumlah peritel modem lain maka pertumbuhan ekonomi Jatim, khususnya melalui kontribusi UKM kian meningkat," tuturnya.

Presiden Direktur PT Carrefour Indonesia Shafie Shamsuddin mengatakan, Bazar Rakyat dan Pojok Rakyat dilaksanakan untuk menunjukkan kemitraan yang erat antara Carrefour, pelaku UKM, dan koperasi. "Pelaksanaannya kami terapkan beriringan dengan tema peringatan HUT Ke-63 Koperasi Indonesia yaitu Koperasi bangkit untuk kesejahteraan rakyat," ucapnya.

Dia optimistis, koperasi yang mayoritasberanggotakan UKM dapat menjadi mitra strategis sekaligus menjadi wadah untuk mengatasi persoalan ekonomi dengan membangun usaha bersama. "Bazar Rakyat dan Pojok Rakyat di Surabaya dilaksanakan di tiga gerai Carrefour di Surabaya di antara-nya, Carrefour Rungkut, Carrefour Jalan Ahmad Yani, dan Carrefour BG Junction di Jalan Bubutan," paparnya.

Bahkan kegiatan yang diadakan di Carrefour Rungkut diikuti 52 pengusaha kecil di bawah binaan Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Perdagangan, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hip-mi), "diikuti oleh pedagang kaki lima yang berada di radius 1 kilometer dari gerai serta mitra UKM binaan Carrefour," tambahnya.

Di sisi lain, Deputi Menteri KUKM Agus Muharram mengatakan, pihaknya mengusulkan keringanan pajak bagi koperasi. Dia menjelaskan, pihaknya menyampaikan usul itu untuk mendorong perkembangan dan meningkatkan kemandirian koperasi, yang sampai saat ini masih dibutuhkan. "Mereka harus dibantu supaya bisa mandiri. Kalau sudah mandiri mereka akan membayar pajak yang lebih besar sesuai ketentuan," katanya di Jakarta kemarin.

Beliau mengatakan, pihaknya telah menyampaikan surat kepada Dirjen Pajak mengenai penyesuaian pajak penghasilan (PPh) atas bunga simpanan anggota koperasi pada 8 Desember 2009. Dalam surat itu, Kementerian KUKM mengusulkan penyempurnaan Peraturan Pemerintah No 15/ 2009 tentang Pajak Penghasilan atas Bunga Simpanan Koperasi yang Dibayarkan oleh Koperasi kepada Anggota Koperasi Orang Pribadi.

Menurut peraturan pemerintah tersebut, bunga simpanan dikenai tarif PPh setelah simpanan memperoleh bunga diatas Rp240.000,- per bulan. Kementerian KUKM mengusulkan agar batas bunga simpanan dinaikkan menjadi di atas Rp320.000,- dengan pertimbangan sesuai perhitungan batas penghasilan tidak kena pajak pada wajib pajak orang pribadi per bulan.

Sumber: Harian Seputar Indonesia
READ MORE - Ritel Modern Disarankan Gandeng UKM

Web Mitra Usaha KERaN


http://mitra.keran.orgWebsite khusus untuk Program Mitra Usaha KERaN dapat diakses di http://mitra.keran.org. Saat ini website ini memiliki 2 modus: modus komputer (diakses lewat komputer) dan modus perangkat bergerak (mobile content). Selain penjelasan tentang konsep Kemitraan, website ini menampilkan daftar Mitra Usaha terbaru dan daftar Direktori Mitra Usaha (dikelompokkan berdasarkan daerah).
Mitra Usaha akan ditampilkan secara urut sesuai nama (alfabet), dengan prioritas tampilan dimulai dari Mitra Emas (PV 200%) diikuti Mitra Perak (PV 100%) dan terakhir Mitra Perunggu (PV 50%).
Untuk pengembangan selanjutnya, direktori akan bisa diakses dengan pengelompokkan secara kategori usaha dan pencarian berdasarkan teks (menggunakan mesin pencari Google).
READ MORE - Web Mitra Usaha KERaN

Petunjuk Teknis Mitra Usaha


Petunjuk Teknis Mitra Usaha KERaNDapatkan petunjuk teknis (cara mendaftar, cara melakukan penambahan deposit MPV, cara melakukan transfer PV ke pelanggan) lewat eWallet maupun lewat SMS dalam bentuk presentasi online atau download dalam format PPS (PowerPoint Slide - Office 97) / Adobe PDF (ideal untukdicetak ke printer). Arahkan peramban (browser) Anda ke http://mitra.keran.org/teknis...
2011-03-14 07:33:35 - admin
READ MORE - Petunjuk Teknis Mitra Usaha

Layanan Pembayaran Listrik, Telepon, Tagihan Kartu Kredit/KTA lewat KERaN


EDC_GaRibet180px.jpg Mulai 1 April 2011, KERaN menyediakan layanan pembayaran tagihan rekening listrik (Jawa,Bali,Kaltim,Kalsel,Kalteng,NTB,NTT,Sumut), tagihan telepon rumah (PSTN), tagihan Internet Telkom Speedy, tagihan telepon bergerak pasca bayar (Halo,Matrix,Flexy Classy), tagihan kartu kredit (HSBC,ANZ), dan cicilan KTA (Kredit Tanpa Agunan: HSBC, ANZ).
Anggota RealPOINT maupun masyarakat umum (non-anggota) dapat langsung melakukan pembayaran di semua DP terdaftar RealPOINT (list DP terpublikasi di http://www.keran.org/daftardp.php).
Biaya adminstrasi untuk layanan ini sebesar Rp5.000,- per transaksi. Khusus untuk anggota RealPOINT, dapatkan 50 PV. Untuk anggota dengan peringkat minimal *1 (pada saat transaksi dilakukan) dapatkan cashback sebesar 100 Pts yang langsung dikreditkan balik ke Point$ Dompet KERaN (eWallet) bersangkutan.
Untuk DP yang akan menyediakan layanan ini, dapat memilih dari 2 pilihan: Menggunakan mesin EDC sendiri (membayar deposit mesin sebesar Rp1.500.000,-, sewa mesin Rp250.000,- per bulan yang mana biaya sewa ini akan dihapuskan / waived kalau transaksi mencapai minimal 1000 transaksi/bulan), atau menggunakan Virtual EDC yang dapat diakses dari aplikasi iSHARC/2 (aktivasi gratis).
Komisi aktivasi untuk DP sebesar Rp600,- per transaksi (kalau menggunakan mesin EDC sendiri komisi ditambah Rp800,- menjadi total Rp1400,- / transaksi). DP juga berhak atas bonus prestasi sebesar Rp50.000,- untuk transaksi via Virtual EDC atau Rp100.000,- untuk transaksi via mesin EDC per 1.000 transaksi.
READ MORE - Layanan Pembayaran Listrik, Telepon, Tagihan Kartu Kredit/KTA lewat KERaN

Revisi Alokasi Biaya Pemasaran untuk Program Mitra Usaha


Mitra.gif
Seperti yang sudah diketahui bersama, selain PV (terbagi dalam 3 kelas: Perunggu, Perak, Emas) disediakan pilihan bagi Mitra Usaha untuk memberikan potongan langsung (discount). Kemudian berkembang pemikiran berdasarkan masukan dari jaringan di lapangan untuk membuat sistem Discount ini menjadi sistem Cashback.
Untuk menyederhanakan sistem yang saat ini memiliki dua besaran promosi: rasio PV (50%,100%,atau 200%)dan persentase discount, diputuskan untuk menggabungkan kedua elemen ini dalam satu sistem yang sederhana, terkait langsung dengan jumlah PV, sekaligus mengakomodir masukan untuk mengimplementasikan sistem Cashback dalam program Mitra Usaha.
Konsekuensinya adalah penyesuaian jumlah MPV per paket yang tadinya 1.000 MPV / paket menjadi 833 MPV / paket. Dengan kata lain, alokasi biaya pemasaran menjadi tetap dan pasti: Mitra Perunggu 3%, Mitra Perak 6%, Mitra Emas 12% tanpa perlu alokasi tambahan untuk discount (sudah terintegrasi).
Manfaat dari penyesuaian ini, pelanggan yang cuma *1 pun akan langsung mendapatkan Reward Point$ setara dengan jumlah PV yang didapat.
Contoh: Budi berbelanja di suatu Mitra Perak sebesar Rp100.000,-. Seperti biasa, Budi menerima 100 PV. Bedanya, sekarang Budi juga langsung menerima 100 Pts yang langsung masuk ke point eWalletnya (dengan catatan Budi saat itu sudah mencapai *1 terlebih dahulu).
Selain itu, sponsor langsungnya (minimal *1) ikut mendapat Reward Point$ sebesar 20% dari jumlah cashback yang diterima Budi (20 Pts). Untuk *2 terdekatnya yang sudah menjadi anggota koperasi juga diberikan Reward Point$ sebesar 20% dari jumlah cashback Budi (20 Pts).
Catatan: Cashback terhadap pelaku transaksi (dan juga residual cashback reward untuk sponsor / upline ybs.) diberikan secara instant / real-time.
Manfaat dari penyesuaian ini bagi Mitra Usaha:
  1. Mitra Usaha tidak lagi perlu mengalokasikan biaya tambahan di luar discount (walaupun tentu saja dipersilakan kalau Mitra Usaha ingin memberikan discount untuk meningkatkan daya saingnya)
  2. Sistem menjadi lebih sederhana, cukup satu besaran: MPV (sebenarnya dua: PV dan Cashback Pts, namun berhubung konversi jumlahnya sama, 1 MPV => 1 PV + 1 Cashback Pts, keduanya dapat dianggap menyatu).
  3. Pelanggan *1 langsung mendapat Pts, membuat pelanggan lebih bersemangat untuk berbelanja di Mitra (pelanggan yang tidak aktif membangun jaringan / cuma berbelanja saja pun tetap mendapatkan Pts)
  4. Ada insentif 20% dari jumlah cashback yang diterima downline langsungnya merangsang sponsornya untuk lebih aktif mempromosikan Mitra Usaha.
  5. Ada insentif 20% untuk upline *2 (yang sudah anggota koperasi) membuat leader group juga secara aktif mendorong keseluruhan jaringan di kelompok pemasarannya untuk aktif berbelanja di Mitra Usaha
Manfaat penyesuaian ini bagi jaringan:
  1. Untuk *1 sudah bisa mendapat Pts (bonus) langsung dari pembelanjaan pribadinya
  2. Adanya cashback reward untuk sponsor merupakan insentif tambahan untuk membangun jaringan
  3. Motivasi tambahan untuk *2 untuk sesegera mungkin menjadi anggota koperasi
Manfaat penyesuaian ini bagi DC/DP:
  1. Cashback diperoleh bila sudah *1, artinya dari awal pelanggan akan termotivasi untuk mencapai 500 PV secepatnya (yaitu dengan belanja sembako / produk eksklusif).
  2. Peningkatan jumlah jaringan lebih cepat --> lebih banyak Business Pack dan produk eksklusif yang terjual --> omzet naik --> penghasilan meningkat
CATATAN PENTING:
Program Mitra Usaha ini direvisi untuk memberikan yang terbaik bagi semua elemen KERaN. Untuk itu mari kita jaga kelangsungan program ini dengan memelihara keharmonisan antar elemen di KERaN dengan memperhatikan aturan main:
  1. Hanya DP terdaftar yang berhak mengajukan diri sebagai Mitra Usaha di bidang ritel kebutuhan sehari-hari
  2. DP dilarang untuk mengambil barang dari pemasok lain selain DC untuk barang yang tersedia di daftar resmi KERaN seperti yang tercantum di daftar produk di sistem iSHARC/2.
  3. Dalam hal barang tertentu tidak tersedia di DC (bukan barang resmi KERaN), DP Mitra dipersilakan memasok barang dari pemasok lain dengan catatan jika suatu hari DC menyediakan barang tersebut maka DP Mitra harus serta merta mengalihkan pasokan barang tersebut kembali lewat DC di daerahnya masing-masing
  4. Ketersediaan barang (stock) barang resmi KERaN harus lebih diutamakan dibanding barang-barang lainnya
Apabila ditemukan pelanggaran atas ketentuan di atas yang dilaporkan oleh jaringan dengan disertai bukti yang jelas, akan dikenakan sanksi tegas berupa pencabutan lisensi Mitra Usaha bersangkutan.
READ MORE - Revisi Alokasi Biaya Pemasaran untuk Program Mitra Usaha

Monday, June 27, 2011

Co-operative Sectors

Types of Co-operatives

The co-operative model of enterprise can be applied to any business activity. They exist in traditional economic sectors such as agriculture, fisheries, consumer and financial services, housing, and production (workers' co-operatives). However, co-operative activity spans to large number of sectors and activities including car-sharing child-care, health and social care, funeral, orchestras and philharmonics, schools, sports, tourism, utilities (electricity, water, gas, etc.), and transport (taxis, buses, etc).
Agricultural co-op, CanadaConsumer co-op product, NorwaySchool co-op ColombiaConsumer co-op, Japan
Health co-op BeninFisheries co-op Japan Social care co-op, SwedenTaxi co-op, Canada

ICA's Sectoral Organisations

READ MORE - Co-operative Sectors

Co-operative History

The Rochdale Pioneers

Co-operatives started out as small grassroots organisations in Western Europe, North America and Japan in the middle of the last century, however, the it is the Rochdale Pioneers that is regarded as the prototype of the modern co-operative society and the founders of the Co-operative Movement.

Rochdale PioneersIn 1844 a group of 28 artisans working in the cotton mills in the town of Rochdale, in the north of England established the first modern co-operative business, the Rochdale Equitable Pioneers Society (photo). The weavers faced miserable working conditions and low wages, and they could not afford the high prices of food and household goods. They decided that by pooling their scarce resources and working together they could access basic goods at a lower price. Initially, there were only four items for sale: flour, oatmeal, sugar and butter.

The Pioneers decided it was time shoppers were treated with honesty, openness and respect, that they should be able to share in the profits that their custom contributed to and that they should have a democratic right to have a say in the business. Every customer of the shop became a member and so had a true stake in the business. At first the co-op was open for only two nights a week, but within three months, business had grown so much that it was open five days a week.

The principles that underpinned their way of doing business are still accepted today as the foundations upon which all co-operatives operate. These principles have been revised and updated, but remain essentially the same as those practiced in 1844. (http://www.ica.coop/coop/history.html)
READ MORE - Co-operative History

Statement on the Co-operative Identity

Definition

A co-operative is an autonomous association of persons united voluntarily to meet their common economic, social, and cultural needs and aspirations through a jointly-owned and democratically-controlled enterprise.

Values

Co-operatives are based on the values of self-help, self-responsibility, democracy, equality, equity and solidarity. In the tradition of their founders, co-operative members believe in the ethical values of honesty, openness, social responsibility and caring for others.

Principles

The co-operative principles are guidelines by which co-operatives put their values into practice.

1st Principle: Voluntary and Open Membership
Co-operatives are voluntary organisations, open to all persons able to use their services and willing to accept the responsibilities of membership, without gender, social, racial, political or religious discrimination.
2nd Principle: Democratic Member Control
Co-operatives are democratic organisations controlled by their members, who actively participate in setting their policies and making decisions. Men and women serving as elected representatives are accountable to the membership. In primary co-operatives members have equal voting rights (one member, one vote) and co-operatives at other levels are also organised in a democratic manner.
3rd Principle: Member Economic Participation
Members contribute equitably to, and democratically control, the capital of their co-operative. At least part of that capital is usually the common property of the co-operative. Members usually receive limited compensation, if any, on capital subscribed as a condition of membership. Members allocate surpluses for any or all of the following purposes: developing their co-operative, possibly by setting up reserves, part of which at least would be indivisible; benefiting members in proportion to their transactions with the co-operative; and supporting other activities approved by the membership.
4th Principle: Autonomy and Independence
Co-operatives are autonomous, self-help organisations controlled by their members. If they enter to agreements with other organisations, including governments, or raise capital from external sources, they do so on terms that ensure democratic control by their members and maintain their co-operative autonomy.
5th Principle: Education, Training and Information
Co-operatives provide education and training for their members, elected representatives, managers, and employees so they can contribute effectively to the development of their co-operatives. They inform the general public - particularly young people and opinion leaders - about the nature and benefits of co-operation.
6th Principle: Co-operation among Co-operatives
Co-operatives serve their members most effectively and strengthen the co-operative movement by working together through local, national, regional and international structures.
7th Principle: Concern for Community
Co-operatives work for the sustainable development of their communities through policies approved by their members.(http://www.ica.coop/coop/principles.html)    
READ MORE - Statement on the Co-operative Identity

What is a co-operative?

A co-operative is an autonomous association of persons united voluntarily to meet their common economic, social, and cultural needs and aspirations through a jointly-owned and democratically-controlled enterprise.

Ranging from small-scale to multi-million dollar businesses across the globe, co-operatives employ more than 100 million women and men and have more than 800 million individual members.


What is the co-operative difference?

Co-op People Co-op People Co-op People Co-operatives are enterprises that put people at the centre of their business and not capital. Co-operatives are business enterprises and thus can be defined in terms of three basic interests: ownership, control, and beneficiary. Only in the co-operative enterprise are all three interests vested directly in the hands of the user.

Co-op People Co-op People Co-op People Co-operatives put people at the heart of all their business. They follow a broaderset of values than those associated purely with making a profit. Because co-operatives are owned and democratically-controlled by their members (individuals or groups and even capital enterprises) the decisions taken by co-operatives balance the need for profitability with the needs of their members and the wider interests of the community.

Co-operatives are also enterprises that follow a set of principles and values - The Co-operative Principles. The Co-operative Identity Statement elaborated in 1995 by the ICA is the internationally recognised definition of the co-operatives, its values, and principles.

Type of co-operatives

The co-operative model of enterprise can be applied to any business activity. They exist in traditional economic sectors such as agriculture, fisheries, consumer and financial services, housing, and production (workers' co-operatives). However, co-operative activity spans to large number of sectors and activities including car-sharing child-care, health and social care, funeral, orchestras and philharmonics, schools, sports, tourism, utilities (electricity, water, gas, etc.), and transport (taxis, buses, etc).

Ag co-operative Canada Consumer co-op Japan Credit Union Kazakhstan Taxi Co-op Canada
Philharmonic co-op USATea co-opDaycare co-op Singapore
Co-op health insurance BeninSchool co-op Colombia Housing co-op Sweden Sewa women's co-op India

Co-operatives are significant economic and social actors

All over the world, millions of people have chosen the co-operative model of business enterprise to enable them to reach their personal and community development goals. Co-operatives create and maintain employment providing income; they are responsible for producing and supplying safe and quality food and services to their members, but also to the communities in which they operate. By putting the Co-operative Principles and ethics in practice they promote solidarity and tolerance, while as 'schools of democracy' they promote the rights of each individual - women and men. Co-operatives are socially conscious responding to the needs of their members whether it is to provide literacy or technical training, or to take action against the HIV/AIDS pandemic. Through their varied activities, co-operatives are in many countries significant social and economic actors in national economies, thus making not only personal development a reality, but contributing to the well-being of entire populations at the national level.
  • Over 800 million people are members of a co-operative.
  • Co-operatives provide 100 million jobs worldwide, 20% more than multinational enterprises.
(http://www.ica.coop/coop/index.html)
READ MORE - What is a co-operative?
paypermails.com

CLICK IT !

Place Your Ads Here

ads ads ads ads
!-- Clicksor.COM -->
peluang usaha
banner 300 x 300